Dalam akta kelahiranku tertulis bahwa aku lahir di Pekanbaru pada tanggal 10 Maret 2001 dengan nama Ahmad Syidi Sudur Mahabah. Mungkin tanpa campur tangan ayahku aku akan bernama Ahmad Sudur Mahabah yang lahir di Tasikmalaya.
Ada juga kemungkinan lain: jika ibuku melanjutkan pekerjaannya di Jerman aku tidak akan ada, atau ada dengan perubahan kecil.
Banyak kemungkinan dalam hidupku dan yang kudapatkan adalah sekarang, dimana aku mendapat tugas untuk membuat otobiografi.
Salah satu kemungkinan yang terjadi adalah namaku. Ahmad adalah nama masa kecil Nabi Muhammad, Sudur Mahabah berarti buah hati. Jika digabung akan berarti buah hati muhammad, amin.
Nama yang diatas diberi oleh kakek buyutku yang bernama Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Sejak kecil sampai sekarang ia terus berada dalam jalur hidupku. Menurut cerita beliau adalah seorang guru dengan keluarga dan murid yang mencintainya. Semua anggota keluargaku menggangap ia sebagai guru, begitu juga aku, guru yang misterius.
Aku mengenalnya saat ia sudah lumpuh dan tak dapat berbincang. Yang kuingat darinya hanyalah saat dia duduk di kursi "khususnya" dan melihatku menonton kartun. Mungkin dari salah satu kemungkinan ia menganggapku sebagi kartun, namun bedanya ia mempelajari kartun tersebut, merenungkannya, mencari hubungan filosofis dan hubungan ketuhanan yang ada dalam kartum tersebut. Entah kenapa aku dapat menganggapnya guru, tapi aku tahu, karena ia selalu tersenyum.
Kembali pada nama - "Syidi" yang diberi ayahku yang bernama Aliardi Alam. Dalam bahasa Padang "syidi" adalah biasan dari "syaid" dan kata "syidi" juga bisa disebut gelar, dan beberapa berkata syidi juga berarti maco, semoga nama2 ini sesuai dengan diriku, amin.
Berlanjut soal itu - Aliardi Alam adalah ayahku. Pria yang kukagumi. Ia adalah seorang pembangkang keras dengan logika dan rasa. Dari cerita ia sering diceritakan sebagai pemuda kurus dengan mulut yang tak tau diri dan bersikap semaunya, ia adalah seorang penguasa kecil. Tapi yang kulihat dia adalah anak yang dididik keras oleh ayahnya, kakekku. Kita akan membahas kakekku lain kali.
Ibuku bernama Tenten Siti Hamidah. Wanita jelita, ayu, bertata krama, independen, muda, humoris, dan bertanggung jawab. Lahir dalam keluarga unik berempat saudara. Satu bagian dari keluarganya adalah ras ningrat dan satu lain adalah ras pengajian.
Saat umurnya 20an ia sudah mandiri: memiliki pekerjaan, belajar dengan baik, membiayai diri sendiri. Karirnya pun maju karena dia tidak malu2 dalam mengerjakan apapun. Hal itu membuat dia akan pindah ke Jerman untuk bekerja.
Salah satu dari kemungkinan ia jadi pergi dan memiliki anak yang bernama Hans. Tapi apa kata Tuhan; suatu hari saat ia pulang kerja ada seorang pria yang sedang berbincang dengan adiknya. Pria yang tadi berkenalan dengan Ibuku dan mereka melanjutkan perbincangan. Ternyata pria tersebut sudah pernah mengenal keluarga ini saat ia berumur 20an awal. Ia mengenal keluara ibuku saat ia datang ke sebuah pesantren untu mencoba hal yang baru. Sang pria tertarik dengan tempat rehabilitasi narkona yang berada di pesantren tersebut. Dalam anggapannya tempat rehab ini menarik karena situasi yang sama seperti penjara. Walaupun ia tidak memiliki masalah dengan narkoba, ia hanya ingin mencoba demi pengalaman.
Ia pun bercerita bagaimana ia pernah melihat ibuku saat ia masih SMA. Tak lama setelah bincang2, pria tersebut mulai mengajak kencan Ibuku. Setelah 3 bulan Ibuku langsung berkata "aku tidak mencari pacar." Setelah semua itu mereka langsung menikah dan setahun kemudian aku lahir.

0 komentar:
Posting Komentar